Kesalahan Pola Asuh Bisa Menimbulkan Trauma Pada Anak.

??Mengasuh anak adalah suatu proses pembelajaran bagi setiap orangtua. Baik itu saat anak masih bayi, kanak-kanak,hingga remaja. Setiap orangtua baiknya punya ilmu bagaimana ia mendidik agar tidak menimbulkan luka trauma pada anak. Karena jika luka itu terjadi maka bisa menjadi trauma (inner child)  hingga dewasa nanti. Memang tidak ada orang tua yang sempurna, begitu pun pengasuhan yang diterapkan. Pengasuhan itu seperti tahap belajar, di mana orang tua melakukan kesalahan, khawatir, bahkan melakukan hal lain yang menyakiti anak.


Kesalahan pengasuhan yang dilakukan orangtua mungkin terjadi karena pola asuh yang didapatkan dari orangtua sebelumnya. Jadi turun temurun dan hal tersebut masih sulit untuk dihentikan sampai saat ini. Bahkan orangtua kita tidak menyadari hal tersebut dan tetap menerapkannya pada anak. Terutama banyak kasus yang terjadi karena kondisi emosional ibu sedang dipengaruhi oleh luka batinnya yang belum sembuh. Akhirnya hal ini terjadi terus menerus dan muncul luka pengasuhan yang butuh waktu lama untuk disembuhkan.


Luka pengasuhan merupakan suatu hal yang sering terjadi dikalangan orang tua, hal itu diterima dari masa kanak-kanak hingga menjadi orang tua selanjutnya. Luka pengasuhan terjadi akibat dari penerapan pengasuhan yang salah, sehingga anak mengalami luka batin yang sulit untuk disembuhkan. Luka pengasuhan adalah ‘hutang’ yang harus dibayar meskipun dengan cara berangsur. Perlu diketahui beberapa kesalahan pola asuh yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak terutama dari segi psikologisnya, yang bisa menimbulkan trauma pada anak. Apa saja kesalahan tersebut? Mari bunda, kita simak yang berikut ini :



  1. Memukul dan Membentak Anak

Banyak yang berpikir bahwa cara ini bisa membuat anak jadi disiplin. Apalagi kalau sudah ada slogan, “Mama-Papa melakukan ini karena sayang sama kamu.” Padahal, selain merusak harga diri anak, cara-cara ini juga bisa membuat mereka menormalisasi kekerasan yang diterima saat menjalin relasi toksik di kemudian hari. Dan masih ada dampak lain bila anak sering dibentak.

  1. Memaksa Anak Mengerjakan Sesuatu yang Tidak Sesuai dengan Umurnya

Karena ambisi orang tua, tak sedikit yang over stimulasi. Anak dipaksa mampu mengerjakan hal-hal yang tidak sesuai dengan umurnya. Mereka dipaksa bisa segera melakukan banyak hal sendiri. Padahal justru ini menjadi salah satu faktor penghambat kemandirian anak.

  1. Membuat Anak Merasa Bersalah

Tidak sedikit orang tua yang memberlakukan silent treatment saat anak melakukan hal yang tidak diharapkan. Mereka kemudian membuat anak merasa bersalah dengan ucapan seperti, “Mama harusnya nggak perlu repot setiap hari kalau nggak perlu ngurusin kamu,” atau “Papa sudah capek kerja banting tulang demi kamu. Kok, kamu begini, sih?”. Silent treatment ini berdampak buruk bagi sang anak, karena memungkinkan ia akan melakukan hal yang sama saat dewasa nanti pada orang sekitarnya, dan itu akan menimbulkan komunikasi yang kurang baik dalam memecahkan masalah.

  1. Terlalu Mengekang atau Terlalu Bebas

Terlalu mengekang atau membebaskannya, sama-sama bisa berdampak buruk bagi anak. Menerapkan pola disiplin yang ketat akan memperlebar jarak komunikasi antara orangtua dengan anak. Terlalu membebaskan anak melakukan apa pun juga berisiko membuatnya berperilaku seenaknya atau tidak bertanggungjawab. 

  1. Terlalu sering mengkritik Anak

Orang Tuanya yang terlalu sering mengkritik akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri atau menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Saat ia melakukan kesalahan, mereka merasa tidak berguna dan marah. Bahkan bisa menimbulkan rasa cemas atau terintimidasi saat melakukan sesuatu sehingga itu menghambat rasa percaya dirinya.

  1. Tidak Berhati-hati dengan Suasana Hati

Menjadi orangtua adalah fase terberat dalam hidup seseorang. Sementara di satu sisi menjadi orang tua menuntut semua energi dan kerja keras, di sisi lain juga dituntut untuk menjadi panutan bagi anak. Jika merasa kesal, pastikan tidak melampiaskan rasa frustrasi di hadapan anak. Karena kita tidak tahu pasti saat keadaaan emosi dan suasana hati tidak stabil apa yang akan kita lakukan pada anak, sehingga perlu kontrol emosi dengan baik setiap kali berada di depan anak.

  1. Membandingkan

Aturan emas mengasuh anak adalah tidak membandingkan dengan anak orang lain. Kemampuan anak tidak boleh menjadi tolok ukur untuk mengukur efisiensi orangtua. Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan berbeda-beda. Orang tua sebaiknya fokus terhadap bakat alami anak-anaknya, daripada memikirkan apa yang dilakukan anak orang lain. Karena setiap anak dilahirkan dengan keistimewaannya masing-masing.


8. Terasing pada saat dibutuhkan

Setiap anak ingin orang tuanya mendukung mereka. Entah di saat bahagia atau duka, anak-anak mengharapkan dukungan dan dorongan dari orang tua mereka. Tetapi jika anak Anda merasa diabaikan dan diasingkan selama masa-masa sulit, hal itu pasti berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Anak akan cenderung mencari perhatian atau bahkan menjadi anak dengan kepribadian tertutup karena menolak kepedulian dari orang lain.


Kesalahan pola asuh ini memang perlu kita ketahui agar kita sebagai orang tua bisa memahami dengan betul bagaimana mendidik anak dengan cara terbaik. Sehingga anak bisa tumbuh sesuai dengan apa yang dia terima dan saat dewasa nanti keadaan fisik maupun mental bisa berkembang dengan baik.


Semoga artikel ini bermanfaat, Bunda ^^

~Barakallahu fiikum~



Sumber :

https://www.parenting.co.id/keluarga/18-kesalahan-mendidik-anak-yang-berbahaya-untuk-kesehatan-mentalnya

https://www.suara.com/health/2022/01/09/171500/5-kesalahan-pola-asuh-pada-anak-awas-dampaknya-sampai-dewasa?page=all

https://lifestyle.bisnis.com/read/20210301/236/1362400/selain-pelecehan-berikut-6-hal-pemicu-trauma-pada-anak


0 Comments

Leave A Comment